Minggu, 11 Maret 2012

Tumbuhan Tingkat Tinggi (Laporan Praktikum Lapang)

BAB I 
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Taksonomi tumbuhan sebagai cabang ilmu botani merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang identifikasi (penamaan), klasifikasi (pengelompokan) suatu tumbuhan ke dalam takson atau taksa tertentu dan deskripsi dari tumbuhan tersebut berdasarkan nomenklatur botani atau kode Internasional tata nama tumbuhan yang berlaku secara universal.
Taksonomi tidak hanya mengenalkan suatu taksa dengan teori-teori yang ada, tetapi taksonomi mengenalkan suatu tingkatan taksa dengan aplikasi dilapangan dengan cara mengumpulkan jenis - jenis yang ada disuatu tempat dan mampu menentukan klasifikasi dari jenis yang didapatkan yang didahului dengan mengidentifikasi jenis tersebut disertai dengan referensi yang ada. Praktek lapang kali ini dilaksanakan di Pusat laut yaitu sebuah kawasan wisata pantai di Donggala.

B.  Tujuan 

         Adapun tujuan dari praktek lapang ini, yaitu:

  1. Sebagai aplikasi ilmu yang diajarkan pada saat perkuliahan di lapangan.
  2. Mengenal bagaimana cara mengkoleksi tumbuhan dilapangan secara langsung.
  3. Untuk mengetahui vegetasi tumbuhan apa saja yang terdapat di kawasan Wisata Pusat Laut   Donggala.



BAB III
METODOLOGI

A.  Waktu dan Tempat

    Adapun watu dan tempat pelaksanaan dari praktek lapang ini, yaitu :
-                   Hari/Tanggal         : Kamis/23 - 24 Desember 2011
-                   Pukul                    : 10.00 Wita s/d selesai
-                  Tempat                  : Kawasan Wisata Pusat Laut Donggala


B.  Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktek lapang ini, yaitu :

1.   Gunting stek                                   6.     Karung        
2.   Label gantung                                 7.     Pensil 2B
3.   Plastik nener                                   8.     Buku
4.   Koran                                              9.     Spritus
5.   Tali rafia


C.  Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja dalam praktek lapang ini, yaitu :
  1. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengambilan serta pengoleksian secara langsung sampel di lapangan.
  2. Pengambilan sampel dilakukan terhadap tanaman tingkat tinggi, bukan tanaman budi daya dan tanaman tingkat rendah.
  3. Pengambilan sampel harus lengkap, dalam hal ini disertai dengan organ generatif dan organ vegetatif.
  4. Apabila pada sampel yang ditemukan mempunyai buah yang lunak atau mudah lepas dari tangkainya dan sangat mudah rusak bagiannya, sebaiknya sampel tersebut dipisahkan dan dimasukkan ke dalam karung.  
  5. Memisahkan sampel-sampel yang didapat untuk tiap jenisnya dan menandai dengan pemberian label gantung disertai nomor koleksi, jika ada sampel yang telah diketahui klasifikasinya dapat ditulis secara langsung pada label gantung menggunakan pensil 2B.
  6. Setelah itu menyusun masing-masing sampel dan menutupi dengan koran kemudian mengikat dan memasukkan ke dalam plastik nener dan memberi spiritus.
  7. Lalu melanjutkan pengerjaannya di herbarium. 


BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pengamatan
No.
Nama Latin
Nama Daerah
Famili
Habitus
1.
Garuga floribunda
Kayu Kambing
Burseraceae
Pohon
2.
Tubernaemontana pandacaqui
Kayu Lana
Apocynaceae
Semak
3.
Erythroxylum sp.
Kayu Sembalawi
Erythroxylonaceae
Pohon
4.
Sterculia sp.
Tidak diketahui
Sterculiaceae
Pohon
5.
-
-
Myrtaceae
Pohon
6.
-
-
Leguminoceae
-     Pohon
-     Semak
-     Liana
-     Herba
7.
-
-
Rubiaceae
-     Pohon
-     Semak
-    Herba
 

B.  Pembahasan

1.   Garuga floribunda

            a.   Morfologi
        Habitus pohon dengan tinggi 6 - 10 m. Batang teres atau bulat tegak. Bangun daun memanjang (oblongus), apeks daun runcing (acutus) dan basis daun tumpul (obtusus). Tipe daun majemuk (folium compositum), tata letak daun pada batang berhadapan (folia opposita) dan pertulangan daun menyirip (penninervis). Warna daun hijau bila terkena cahaya. Tipe buah carpel batu (drupa), pericarpium berdaging dengan satu biji tanpa endosperm dan kotiledon mengandung minyak. Tipe bunganya majemuk tak berbatas (inflorescentia racemosa) dan terletak pada ujung daun (terminalis).

            b.   Klasifikasi
                        Adapun klasifikasi dari tumbuhan Garuga floribunda, yaitu :
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Sapindales
                  Famili            :       Burseraceae
                  Genus            :       Garuga
                  Spesies          :       Garuga floribunda

c.       Ekologi
      Garuga floribunda hidup pada daerah dengan ketinggian 700 – 1600 m dari permukaan laut banyak tersebar di daerah tropis juga terdapat pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
      Daun Garuga floribunda digunakan untuk pakan ternak. Buahnya dapat dimakan. Daunnya juga mengandung tannin atau zat warna yang dapat digunakan untuk pewarna tikar. Kayu Garuga floribunda digunakan untuk konstruksi umum seperti  membangun jembatan.

2.   Tubernaemontana pandacaqui

            a.   Morfologi
      Habitus semak dengan tinggi 2 - 5 m. Batang teres atau bulat tegak. Bangun daun lanset (lanceolatus), apeks daun runcing (acutus) dan basis daun tumpul (obtusus). Tipe daun tunggal (folium simplex), tata letak daun pada batang berseling berhadapan (folia opposite alternate) dan pertulangan daun menyirip (penninervis). Warna daun hijau bila terkena cahaya. Tipe buah carpel yang berwarna merah bila telah masak dan berwarna hijau bila masih muda. Tipe bunganya majemuk tak berbatas (inflorescentia racemosa) dengan jumlah sepal dan petal 5, stamen 1 dan terletak pada ketiak daun (axillaris).

            b.   Klasifikasi
      Adapun klasifikasi dari tumbuhan Tubernaemontana pandacaqui, yaitu :
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Gentianales
                  Famili            :       Apocynaceae
                  Genus            :       Tubernaemontana
                  Spesies          :       Tubernaemontana pandacaqui

c.       Ekologi
      Tubernaemontana pandacaqui hidup pada daerah dengan ketinggian 10 - 900 m dari permukaan laut banyak tersebar di daerah tropis juga terdapat pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
      Serat yang diperoleh dari kulit kayu Tubernaemontana pandacaqui dapat dibuat menjadi tali atau pintal, batang Tubernaemontana pandacaqui dapat dijadikan kayu bakar dan arang.

3.   Erythroxylum sp.

            a.   Morfologi
      Habitus semak hingga pohon dengan tinggi 4,5 - 12 m. Batang teres atau bulat tegak. Bangun daun lanset (lanceolatus) atau jorong (ovalis), apeks daun runcing (acutus) dan basis daun tumpul (obtusus). Tipe daun majemuk (folium compositum), tata letak daun pada batang berselang-seling (folia disticha) dan pertulangan daun menyirip (penninervis). Warna daun hijau bila terkena cahaya. Tipe buah polong (legumen) yang berwarna merah bila telah masak dan berisi satu biji. Bunganya soliter dengan kelopak putih berjumlah 5 dan terletak pada ketiak daun (axillaris).

            b.   Klasifikasi
                        Adapun klasifikasi dari tumbuhan Erythroxylum sp. yaitu :
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Malpighiales
                  Famili            :       Erythroxylonaceae
                  Genus            :       Erythroxylum
                  Spesies          :       Erythroxylum sp.

c.       Ekologi
      Erythroxylum sp. toleran terhadap kelembaban tinggi atau suhu tinggi dan berbagai tanah. Hidup pada daerah dengan ketinggian 720 m dari permukaan laut, tepatnya pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
      Daunnya mengandung meteloidine 0,8%, sebuah alkaloid yang mirip dengan struktur kokain dan tropanes lainnya, tetapi tidak memiliki bioaktivitas berbeda kokain ehingga dapat dijadikan sebagai obat penenang. Batang Erythroxylum sp. dapat dijadikan kayu bakar dan arang.

4.   Sterculia sp.

            a.   Morfologi
      Habitus pohon dengan tinggi 8 – 10 m. Batang teres atau bulat tegak. Bangun daun lanset (lanceolatus) atau jorong (ovalis), apeks daun meruncing (acuminatus) dan basis daun tumpul (obtusus). Tipe daun majemuk (folium compositum), tata letak daun pada batang berselang-seling (folia disticha) dan pertulangan daun menyirip (penninervis). Warna daun hijau bila terkena cahaya. Tipe buah agregat dengan 4 atau lebih kapsul yang akan pecah bila masak, warna buah hijau bila masih muda dan ketika masak warna buah merah marun atau merah. Biji bulat telur berjumlah 3 sampai 4, dilapisi dengan kulit hitam dan tipis. Bunganya soliter dengan mahkota berwarna kuning atau merah muda dan terletak pada ketiak daun (axillaris).

            b.   Klasifikasi
                        Adapun klasifikasi dari tumbuhan Sterculia sp. yaitu :
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Malvales
                  Famili            :       Sterculiaceae
                  Genus            :       Sterculia
                  Spesies          :       Sterculia sp.

c.       Ekologi
      Sterculia sp. hidup pada daerah dengan ketinggian 720 m dari permukaan laut, tepatnya pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
      Serat yang diperoleh dari kulit kayu Sterculia sp. dapat dibuat menjadi tali atau pintal, batang Sterculia sp. dapat dijadikan kayu bakar dan arang. Buah Sterculia sp. mengandung asam (glukuronat dan asam galacturonic) dan konten dari gula netral (arabinosa, rhamnose dan galaktosa) yang berfungsi sebagai utilitas sehingga dapat diolah menjadi permen karet.

5.   Famili Myrtaceae

            a.   Morfologi
      Habitus pohon atau semak, jarang yang memanjat (liana) atau epifit dengan kulit batang yang terkelupas. Daun tunggal, berhadapan atau alternate jarang yang verticulate, memiliki kelenjar pellucid yang rapat, biasanya dengan pertulangan daun di dalam, kadang-kadang triplinerved atau dengan 3 – 7 tulang paralel, sering seperti kulit, tepi daun rata, stipule absen atau terudimeter. Inflorescensia racemosa atau bunga soliter. Bunga aktinomorf, sepals 4 atau 5, persisten. Petal 4 – 5 (-12) biasanya bebas, kadang-kadang sangat tidak seimbang dalam ukuran. Stamen banyak, kadang dalam bentuk ikatan, anthera biasanya terbuka dengan slit, kadang-kadang berporus. Ovary inferior 2 – 5 bersel, stulus dan stigma 1. Ovula 2 hingga banyak dalam masing – masing lokul.

            b.   Klasifikasi
                        Adapun klasifikasi dari tumbuhan pada famili Myrtaceae, yaitu :
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Myrtales
                  Famili            :       Myrtaceae

c.       Ekologi
      Tumbuhan famili Myrtaceae memiliki habitat pada hutan rawa, pada daerah aliran sungai, pada hutan kerangas dan hutan pegunungan. Juga hidup pada daerah dengan ketinggian 720 m dari permukaan laut, tepatnya pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
      Tumbuhan famili Myrtaceae mengandung minyak atsiri contohnya pada spesies Malaleuca leucodendron. Batangnya dapat dijadikan kayu bakar dan arang. Bunga Syzigium aromaticum dapat dijadikan cemilan seperti keripik karena berasa pedas mengandung minyak atsiri.


6.   Famili Leguminoceae

            a.   Morfologi
      Berupa pohon, semak, liana, herba yang memanjat, monoeceus, jarang yang dioceus, kadangkala batang dan cabang berduri, daun tersusun majemuk spiral, jarang berhadap-hadapan, tunggal, pinnate atau bipinnate. Daun penumpu biasanya ada, anak daun berhadapan atau alternate, kadang-kadang tidak ada, perbungaan muncul di ketiak daun atau pada ujung ranting. Braktea ada, bracteolus biasanya ada, bunga biseksual atau uniseksual, berbentuk zigomorf atau aktinomorf. Calix biasanya berjumlah 5, petal sering tidak sama. Stamen jumlahnya 10, kadangkala lebih atau kurang, jarang hadir dalam bunga betina. Ovarium superior, sessil, 1 sel, kadangkala beberapa, stylus pendek atau panjang, stigma terminal. Buah dalam bentuk polong, biasanya kering, biji satu atau banyak, kotiledon berdaging berbentuk curve.

            b.   Klasifikasi
                        Adapun klasifikasi dari tumbuhan pada famili Leguminoceae yaitu:
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Fabales
                  Famili            :       Leguminoceae

c.       Ekologi
      Tumbuhan famili Leguminoceae hidup pada daerah dengan ketinggian 720 m dari permukaan laut, tepatnya pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
Tumbuhan famili Leguminoceae Batangnya dapat dijadikan kayu bakar dan arang. Juga dapat dimanfaatkan sebagai obat misalnya pada Cassia. Juga dapat dikonsumsi sebagai pakan ternak serta manusia. Misalnya Arachis hypogaea atau kacang tanah mengandung bahan yang dapat membina ketahanan tubuh dalam mencegah beberapa penyakit. Kacang tanah mengandung Omega 3 yang merupakan lemak tak jenuh ganda dan Omega 9 yang merupakan lemak tak jenuh tunggal. Kacang tanah juga mengandung arginin yang dapat merangsang tubuh untuk memproduksi nitrogen monoksida yang berfungsi untuk melawan bakteri tuberkulosis.

6.   Famili Rubiaceae

            a.   Morfologi
      Semak, herba atau pohon, jarang yang climber atau epifit. Daun tunggal, berhadap-hadapan atau kadang berkarang, tepi daun rata, stipule biasanya terdapat. Inflorescensia sangat variabel, termasuk panikel. Sepal 4 – 5 dasarnya berhubungan, biasanya persisten pada buah. Corolla 4 – 5 (-10) bercagak, dengan panjang hingga kadang-kadang tabung pendek. Tabung kebanyakan ada, stamen banyak. Stylus 1, stigma 1, rata atau 2 bercagak, plasenta bervariasi, ovule 1, banyak perlokul. Buah drupa, berry atau kapsul.

            b.   Klasifikasi
                        Adapun klasifikasi dari tumbuhan pada famili Rubiaceae, yaitu :
                  Kingdom        :       Plantae
                  Divisi             :       Spermatophyta
                  Class              :       Dicotyledoneae
                  Ordo              :       Gentianales
                  Famili            :       Rubiaceae

c.       Ekologi
      Tumbuhan famili Rubiaceae hidup pada daerah dengan ketinggian 720 m dari permukaan laut, tepatnya pada ekosistem hutan pantai yang tidak terpengaruh iklim dengan tipe tanah kering (tanah pasir, berbatu karang dan lempung).

d.      Nilai ekonomi
      Tumbuhan famili Rubiaceae Batangnya dapat dijadikan kayu bakar dan arang. Misalnya pada Morinda citrifolia atau mengkudu megandung zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, vitamin, dan mineral penting, tersedia dalam jumlah cukup pada buah dan daun mengkudu. Mengandung Terpenoid zat ini membantu dalam proses sintesis organic dan pemulihan sel-sel tubuh. Juga zat anti bakteri yang terkandung dalam sari buah mengkudu itu dapat mematikan bakteri penyebab infeksi, juga zat anti kanker yang terdapat pada mengkudu paling efektif melawan sel-sel abnormal.



BAB V 
PENUTUP

A.  Kesimpulan

      Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktek lapang ini, yaitu : 

  1. Vegetasi tumbuhan yang terdapat di kawasan Wisata Pusat Laut Donggala yang berhasil diidentifikasi yaitu terdapat 7 famili yang tumbuh pada daerah tersebut yang ditemukan pada daerah hutan pantai.
  2. Garuga floribunda dari famili Burseraceae dengan nama daerah kayu kambing, habitus pohon dengan tinggi 6 - 10 m. Tubernaemontana pandacaqui dari famili Apocynaceae dengan nama daerah kayu lana, Habitus semak dengan tinggi 2 - 5 m. Batang teres atau bulat tegak. Erythroxylum sp. dengan nama daerah kayu sembalawi dari famili Erythroxylonaceae, Habitus semak hingga pohon dengan tinggi 4,5 - 12 m. Sterculia sp. dengan famili Sterculiaceae,   Habitus pohon dengan tinggi 8 – 10 m.
  3. Juga terdapat tumbuhan yang belum teridentifikasi yang berasal dari famili Mrytaceae, Leguminoceae dan Rubiaceae.

B.  Saran

   Diharapkan agar dalam praktek lapang selanjutnya, tempat yang akan dijadikan untuk melakukan kegiatan praktek lapang memiliki  vegetasi yang lebih beraneka ragam, sehingga praktikan dapat menemukan vegetasi tumbuhan baru yang belum pernah disinggung pada saat praktek di laboratorium.

0 komentar:

Poskan Komentar