Minggu, 11 Maret 2012

Pengamatan Morfologi Fungi (Praktikum mikro VI)



BAB I 
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Jamur (fungi) banyak kita temukan disekitar kita. Jamur tumbuh subur terutama di musim hujan karena jamur menyukai habitat yang lembap. Beberapa ahli mikologi membagi jamur menjadi dua kelompok berdasarkan bentuk tubuhnya, yaitu kapang (mold) dan khamir (yeast).
Kebanyakan jamur masuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk filamen panjang bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat (tempat hidup jamur). Sedangkan jamur dalam kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat atau oval.
Pengamatan morfologi sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Bahkan pengamatan morfologi ini lebih penting daripada pengamatan fisiologis. Terdapat beberapa cara atau metode pengamatan yaitu dengan pembuatan slide cultur atau hanging drop. Untuk pengamatan morfologi dapat dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis.

B.  Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui morfologi fungi (kapang dan khamir) dengan metode pengamatan slide cultur.




BAB III
METODOLOGI
 
A.  Waktu dan Tempat

Adapun watu dan tempat pelaksanaan dari praktikum ini yaitu :
a.   Hari/Tanggal              : Kamis/01 Desember 2011
b.   Pukul                         : 10.00 Wita s/d selesai
c.   Tempat                       : Lab. Biodas Jurusan Biologi FMIPA UNTAD

B.  Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu :
a.   Alat
1.    Cawan petri                                      6.   Hot plate
2.    Ose loop                                           7.   Handsprayer
3.    Mikroskop                                        8.   Masker
4.    Kaca objek dan penutup                   9.   Pembakar bunsen
5.    Enkas                                              10.   Pipet tetes

b.  Bahan
1.    Aspergillus sp.
2.    Phytophthora  palmivora
3.    Aquadest
4.    Alkohol
5.    Medium MEA
6.    Medium PDA
7.    Batang lidi ± 6 cm
8.    Kapas


C.   Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja dalam praktikum kali ini yaitu :
-           Pembuatan slide kultur Aspergillus sp.
1.  Mencairkan medium MEA di atas hot plate kemudian menyiapkan buah cawab petri.
2.  Menyiapkan 2 buah batang lidi dengan ukuran ± 6 cm.
3.  Mensterilkan batang lidi dengan menyemprotkan alkohol pada batang lidi lalu mengeringkan dengan menggunakan kapas.
4.  Meletakkan batang lidi dalam cawan petri dengan posisi sejajar dan terpisah.
5.  Mengambil sedikit kapas dan meletakkan dalam cawan petri dengan posisi berada diantara batang lidi.
6.  Meneteskan aquadest secukupnya pada kapas hingga lembab.
7.  Mensterilkan kaca objek dan penutupnya dengan menyemprotkan alkohol kemudian mengeringkan dengan kapas.
8.  Meletakkan kaca objek dalam cawan petri dimana batang lidi sebagai penyangganya.
9.  Mengambil medium MEA yang telah cair dengan pipet tetes lalu meneteskan pada kaca objek (1 tetes).
10.Membarakan ose loop diatas api bunsen, lalu mencelupkan ke dalam larutan alkohol 70 % yang ada di dalam tabung reaksi.
11.Menyentuhkan Ose loop ke atas Aspergillus sp., lalu menggoreskan secara langsung ke kaca objek sebelum medium MEA memadat.
12.Menaruh kaca penutup sambil sedikit ditekan
13.Menyimpan slide kultur dalam enkas untuk diamati selama 24 jam.
14.Mengulangi prosedur dari awal hingga akhir dengan mengganti medium MEA dengan medium PDA.


-          Pembuatan slide kultur Phytophthora  palmivora
1.  Mencairkan medium PDA di atas hot plate kemudian menyiapkan buah cawab petri.
2.  Menyiapkan 2 buah batang lidi dengan ukuran ± 6 cm.
3.  Mensterilkan batang lidi dengan menyemprotkan alkohol pada batang lidi lalu mengeringkan dengan menggunakan kapas.
4.  Meletakkan batang lidi dalam cawan petri dengan posisi sejajar dan terpisah.
5.  Mengambil sedikit kapas dan meletakkan dalam cawan petri dengan posisi berada diantara batang lidi.
6.  Meneteskan aquadest secukupnya pada kapas hingga lembab.
7.  Mensterilkan kaca objek dan penutupnya dengan menyemprotkan alkohol kemudian mengeringkan dengan kapas.
8.  Meletakkan kaca objek dalam cawan petri dimana batang lidi sebagai penyangganya.
9.  Mengambil medium PDA yang telah cair dengan pipet tetes lalu meneteskan pada kaca objek (1 tetes).
10.Membarakan ose loop diatas api bunsen, lalu mencelupkan ke dalam larutan alkohol 70 % yang ada di dalam tabung reaksi.
11.Menyentuhkan Ose loop ke atas Phytophthora palmivora lalu menggoreskan secara langsung ke kaca objek sebelum medium PDA memadat.
12.Menaruh kaca penutup sambil sedikit ditekan
13.Menyimpan slide kultur dalam enkas untuk diamati selama 24 jam.
14.Mengulangi prosedur dari awal hingga akhir dengan mengganti prosedur PDA dengan medium MEA.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan
No.
Medium/Fungi
Gambar
Keterangan
1.
MEA /
Aspergillus sp.
 


1.     Spora
2.     Sporangium
3.     Sporangiofor
4.     Hifa
5.     Miselium
6.     Kolumela

2.
PDA /
Aspergillus sp.

 







1.    Spora
2.    Sporangium
3.    Sporangiofor
4.    Hifa
5.    Miselium
6.    Kolumela



B.  Pembahasan

        Pada praktikum kali ini yaitu pengamatan morfologi fungi (kapang dan khamir) praktikan melakukan pemeriksaan morfologi kapang dan khamir. Pemeriksaan morfologi dilakukan melalui dua cara yaitu pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Pada pengamatan makroskopis yaitu pengamatan pertumbuhan koloni fungi secara langsung. Pengamatan mikroskopis yaitu pengamatan morfologi fungi dengan menggunakan mikroskop.

      Kapang adalah jamur multiseluler (berinti banyak). Kebanyakan jamur termasuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk filamen panjang bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan menyerap makanan dari permukaan substrat (tempat hidup jamur). Hifa-hifa membentuk jaring-jaring benang kusut disebut miselium. Beberapa hifa bersifat senositik, artinya hifa-hifa tidak terpisah dalam ruang-ruang antar sel, melainkan membentuk sebuah sel raksasa berinti banyak. Jenis hifa lain ada yang terpisah dalam ruang-ruang oleh septa (dinding).
         Jamur dalam kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat atau oval. Khamir adalah fungi yang tidak membentuk miselium, namun beberapa spesies diantaranya dapat membentuk miselium semu (pseudomiselium). Morfologi khamir lebih sederhana dari kapang.
         Praktikum kali ini diawali dengan pembuatan slide cultur untuk mempermudah pengamatan morfologi fungi khususnya pengamatan mikroskopis. Fungi yang digunakan untuk jenis kapang yaitu Phytophthora palmivora dan untuk jenis khamir yaitu Aspergillus sp.
         Aspergillus sp. merupakan jenis jamur dari divisi Ascomycota yang dimana jamur ini bercirikan talus yang terdiri dari miselium bersekat. Reproduksi seksual membentuk askospora di dalam askus. Pada reproduksi aseksualnya dihasilkan spora konidia yang terbentuk pada ujung hifa khusus yang disebut konidiospora. Memiliki tipe askus yang askokarpnya berbentuk bola. Berdasarkan hasil pengamatan setelah 24 jam ditemukan koloni Aspergillus sp. pada medium MEA dan PDA. Koloni Aspergillus sp. berwarna hijau dan keadaan permukaan koloni menggunung. Pada pengamatan mikroskopis terlihat hifa yang membentuk miselium semu (pseudomiselium) serta konidiospora yang berbentuk bulat dan berwarna hijau. Pada jamur ini terdapat bagian-bagian yaitu sporangium yang berbentuk bulat yang berisi spora. Sporangium akan pecah bila spora telah matang. Sporangiofor adalah hifa yang tumbuh tegak lurus substrat yang berfungsi sebagai batang. Stolon adalah hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat. Rhizoid adalah hifa yang bercabang-cabang, membentuk seperti jangkar yang berfungsi menyerap nutrisi. Kolumela adalah dasar badan buah pada kapang.
         Koloni Aspergillus sp. yang tumbuh pada medium MEA lebih banyak dibandingkan koloni Aspergillus sp. yang terdapat pada medium PDA. Hal tersebut disebabkan kandungan nutrisi yang terdapat dalam medium MEA lebih banyak dibandingkan pada medium PDA.
Phytophthora palmivora merupakan salah satu patogen tumbuhan yang menyerang berbagai tumbuhan budidaya. Anggota Oomycetes ini memiliki spektrum target yang luas, baik tumbuhan monokotil maupun dikotil. Tanaman budidaya yang biasa diserangnya adalah berbagai palma seperti kelapa dan enau, kakao, serta beberapa tanaman buah-buahan. Berdasarkan hasil pengamatan setelah 24 jam tidak ditemukan koloni dari Phytophthora palmivora baik pada medium PDA dan MEA. Hal tersebut dikarenakan pada pengisolasian medium PDA waktu yang diperlukan mikroorganisme untuk tumbuh lebih lama karena pada medium PDA terdapat karbohidrat yang lebih lama diuraikan oleh kapang sehingga waktu yang diperlukan tumbuh pun lebih lama. Sedangkan medium MEA merupakan medium untuk petumbuhan khamir, seperti yang kita ketahui Phytophthora palmivora merupakan kapang sehingga tidak sesuai dijadikan media pertumbuhannya.

BAB V  PENUTUP

A.  Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini yaitu :
1.      Penamatan morfologi mikroba dengan menggunakan slide cutur bertujuan untuk mempermudah pengamatan secara mikroskopis.
2.      Dari hasil pengamatan pada medium MEA ditemukan koloni Aspergillus sp. dengan ciri-ciri berwarna hijau dan keadaan permukaan koloni menggunung. Pada pengamatan mikroskopis terlihat hifa yang membentuk miselium semu (pseudomiselium) serta konidiospora yang berbentuk bulat dan berwarna hijau. Kolumela adalah dasar buah pada kapang.
3.      Pada jamur Aspergillus sp. terdapat bagian-bagian yaitu sporangium yang berbentuk bulat yang berisi spora. Sporangium akan pecah bila spora telah matang. Sporangiofor adalah hifa yang tumbuh tegak lurus substrat yang berfungsi sebagai batang. Stolon adalah hifa yang membentuk jaringan pada permukaan substrat. Rhizoid adalah hifa yang bercabang-cabang, membentuk seperti jangkar yang berfungsi menyerap nutrisi.
4.      Dari hasil pengamatan pada medium PDA dan MEA tidak ditemukan koloni Phytophthora palmivora, dikarenakan pada medium PDA terdapat karbohidrat yang lebih lama diuraikan oleh kapang sehingga waktu yang diperlukan tumbuh pun lebih lama. Sedangkan medium MEA merupakan medium untuk petumbuhan khamir, seperti yang kita ketahui Phytophthora palmivora merupakan kapang sehingga tidak sesuai dijadikan media pertumbuhannya.

B.     Saran

Disarankan dalam praktikum selanjutnya baik praktikan maupun para asisten praktikum lebih memperhatikan prosedur kerja agar diperoleh hasil yang memuaskan.

0 komentar:

Poskan Komentar