Rabu, 14 Maret 2012

Daun Lengkap & Daun tidak Lengkap (Praktikum mortum I)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Ilmu tumbuhan pada waktu sekarang telah mengalami kemajuan begitu pesat, hingga bidang-bidang pengetahuan yang semula merupakan hanya cabang-cabang ilmu tumbuhan saja, sekarang ini telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri-sendiri.
Dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang sekarang telah berdiri sendiri adalah morfologi tumbuhan. Morfologi tumbuhan hanya mempelajari bentuk dan susunan tubuh tumbuhan pun sudah demikian pesat perkembangannya hingga dipisahkan menjadi morfologi luar saja dan morfologi tumbuhan atau lebih dikenal dengan anatomi tumbuhan.
Menurut definisinya, morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan tumbuhan saja tetapi juga bertugas menentukan apakah fungsi masing-masing bagian dari tumbuhan tersebut.
Karenan banyaknya jenis tumbuhan dan banyaknya bentuk daun baik daun lengkap dan daun tidak lengkap, maka perlunya mempelajari bagaimana sajakah bentuk dan pembagiannya.

B. Tujuan
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dilakukannya praktikum ini adalah:
- Mengetahui dan mengenal bagian-bagian daun serta membedakan daun lengkap dan daun tidak lengkap.
 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Piper bettle
A. Morfologi
Piper bettle yang biasanya disebut sirih dengan family piperaceae, merupakan daun tidak lengkap (folium incompletus) karena sirih tidak memiliki pelepah daun (vagina) melainkan hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Bangun daun (circumscriptio) berbentuk bulat telur (ovatus) dan daging daun (intervenium) jika dipegang seperti kertas (papyraceus).
Piper bettle juga memiliki bentuk pertulangan daun (nervatio) yang melengkung (cervinervis), tepi daun (margo folii) yang rata (integer), ujung daun (apex folii) yang meruncing (acuminatus) dan pangkal daun (basis folii) yang berlekuk (emarginatus). Permukaan daunnya bersifat licin mengkilat (laevis nitidus) (Gembong, 1985).

B. Klasifikasi
Berikut susunan klasifikasi dari Piper bettle atau sirih yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Piperales
Family : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper bettle
(Plantamor, 2011).

C. Ekologi
Piper bettle tumbuh di daerah hutan agak lembab dengan keadaan tanah yang lembab. Hidup pada daerah yang mempunyai curah hujan 2250 - 4750 mm/tahun. Tumbuhan ini dapat ditemukan hingga ketinggian 900 m dpl dan menyukai tempat yang teduh dan terlindung dari angin, serta pada daerah yang beririgasi baik dan kaya bahan organik dengan pH 7 – 7,5.

D. Nilai medis
Piper bettle dapat digunakan untuk mengobati sakit perut, sakit gigi, obat cacing dan mengandung obat perangsang. Daun sirih yang sudah direbus dapat digunakan untuk mencuci luka.
Daun sirih juga dapat digunakan sebagai obat untuk mengobati keputihan, mimisan, obat batuk, disentri, sariawan, menghilangkan jerawat bahkan sebagai obat untuk jantung. Kandungan kimia yang terdapat pada sirih antara lain minyak sirih, kavicol dan sebagainya.

E. Nilai komersial
Tumbuhan ini secara komersial dapat dijadikan sebagai bahan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohya daun sirih yang diolah untuk pembuatan pasta gigi, sabun sirih dan juga minyak sirih (Piper bettle oil). Harga daun sirih yaitu Rp 500,- per kg sedangkan sirih dengan daun, tangkai dan ranting sudah mencapai Rp 5.000,- per kg. Harga minyak daun sirih (Piper bettle oil) yaitu Rp 300.000,- per kg.

2.2 Euphorbia hirta
A. Morfologi
Euphorbia hirta atau patikan kebo dengan family Euphorbiaceae, merupakan daun tidak lengkap karena hanya memiliki helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus). Bentuk bangun daun (circumscriptio) adalah jorong (ovalis) dan daging daun (intervenium) jika dipegang terasa tipis lunak (herbaceus).
Euphorbia hirta juga memiliki bentuk pertulangan daun (nervatio) yang menyirip (penninervis), tepi daun (margo folii) yang bergerigi ganda (biserratus), ujung daun (apex folii) yang runcing (acutus) dan pangkal daun (basis folii) yang runcing (acutus). Jika diraba permukaan daunnya terasa berbulu kasar (hispidus) (Gembong, 1985).

B. Klasifikasi
Berikut ini susunan klasifikasi dari Euphorbia hirta adalah:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Euphorbiales
Family : Euphorbiaceae
Genus : Ephorbia
Spesies : Euphorbia hirta
(Plantamor, 2011).

C. Ekologi
Euphorbia hirta dapat tumbuh pada suhu sekitar 23 – 28 oC. Euphorbia hirta merupakan tumbuhan daerah tropis dengan curah hujan sekitar 1600 mm/tahun. Euphorbia hirta merupakan tumbuhan merambat yang tumbuh diantara rumput. Dapat ditemukan pada ketinggian 200 mm dpl. Toleran terhadap pH 3,2 – 4,6. Kelembapan di sekelilingnya tidak terlalu berpengaruh.

D. Nilai medis
Euphorbia hirta memiliki bagian anti inflamasi atau radang yaitu suatu respon utama dari sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi, juga anti hemostatik atau pendarahan serta anti diuretik atau laju urinasi. Daun patikan dapat digunakan untuk mengobati asma, radang usus dan sakit tenggorokan. Kandungan kimia yang dimiliki adalah flanoid, glilcosida, sterol, eufostrol, alkaloid dan lain sebagainya.

E. Nilai komersial
Euphorbia hirta dapat digunakan sebagai obat karena merupakan Tumbuhan obat Indonesia. Euphorbia hirta yang telah diracik telah memiliki harga jual yang tinggi tergantung jenis penyakit yang akan diobati. Tumbuhan ini hanya dapat bertahan selama 1 tahun.

2.3 Anacardium occidentale

A. Morfologi
Anacardium occidentale atau jambu mede dengan family anacardiaceae, merupakan tumbuhan yang memiliki daun yang tidak lengkap (folium incompletus) karena hanya memiliki helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus). Memiliki bentuk bangun daun (circumscriptio) yang jorong (ovalis) dan daging daun (intervenium) jika dipegang seperti perkamen (perkamenteus).
Anacardium occidentale juga memiliki bentuk pertulangan daun (nervatio) yang menyirip (penninervis), tepi daun (margo folii) yang rata (integer), ujung daun (apex folii) yang tumpul (obtusus) dan pangkal daun (basis folii) yang runcing (acutus). Jika diraba permukaan daunnya terasa berkerut (rugosus) (Gembong, 1985).

B. Klasifikasi
Berikut ini susunan klasifikasi dari Anacardium occidentale yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Sapindales
Family : Anacardiaceae
Genus : Anacardium
Spesies : Anacardium occidentale
(Plantamor, 2011).

C. Ekologi
Tumbuhan jambu mede berasal dari timur laut Brazil, yang kemudian dibudidayakan di negara-negara tropis. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada suhu 20 – 35 oC dan tidak cocok ditanam pada daerah yang bersalju, karena tumbuhan ini menghendaki penyinaran matahari yang tinggi. Apabila tumbuhan jambu mede ini kekurangan penyinaran matahari maka produktivitasnya akan menurun karena radiasi yang rendah dapat memperlambat proses fotosintesis. Adapun jenis tanah yang sesuai dengan tumbuhan ini yaitu tanah yang berpasir, tanah lempung pasir dan tanah ringan berpasir dengan tingkat pH 6,3 - 7,3. Curah hujan 500 – 3500 mm/tahun. Dengan ketinggian 0 – 1200 m dpl dan dengan kelembapan 40 – 60 %.

D. Nilai medis
Tumbuhan ini banyak mengandung nilai medis, diantaranya yaitu pada kulit jambu mede dapat berkhasiat sebagai obat kumur atau sariawan. Akarnya dapat digunakan sebagai bahan pembuat obat pencuci perut. Selain itu daun dari jambu mede yang masih mudah dapat digunakan sebagai lalapan dan daun yang sudah tua sebagai obat luka bakar.

E. Nilai komersial
Tumbuhan jambu mede merupakan komoditi ekspor yang banyak manfaatnya. Biji mede dapat digoreng sebagai makanan bergizi tinggi. Buah mede dapat diolah menjadi sari buah, manisan kering, selai dan buah kaleng. Akar dari tumbuhan jambu mede ini dapat dibuat sebagai obat untuk pencuci perut. Selain itu kulit kayu mengandung cairan yang berwarna coklat yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna. Biji dari buah jambu mede dapat dimakan karena mengandung vitamin C dan minyak CNSL (Casew Nut Shell Liquid) / minyak laka adalah minyak yang dihasilkan dari kulit jambu mede yang bernilai komersial karena dapat digunakan sebagai bahan bakar.

2.4 Plumeria acuminate
A. Morfologi
Plumeria acuminate atau biasa dikenal dengan sebutan kamboja putih dengan family apocynaceae adalah salah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap (folium incompletes), karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Bangun daun (circumscriptio) berbentuk sudip (spathulatus) dan daging daun (intervenium) jika dipegang seperti kulit (coriaceus).
Plumeria acuminate juga mempunyai bentuk pertulangan daun (nervatio) primer paralel, tepi daun (margo folii) yang rata (integer), ujung daun (apex folii) yang tumpul (obtusus) dan pangkal daun (basis folii) yang runcing (acutus). Permukaan daunnya bersifat licin suram (laevis nitidus) (Gembong, 1985).

B. Klasifikasi
Adapun susunan klasifikasi dari Plumeria acuminate yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Gentianales
Family : Apocynaceae
Genus : Plumeria
Spesies : Plumeria acuminate
(Plantamor, 2011).

C. Ekologi
Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah. Walaupun berasal dari tempat yang jauh, kemboja sekarang merupakan pohon yang sangat populer di Pulau Bali karena ditanam di hampir setiap pura serta sudut kampung, dan memiliki fungsi penting dalam kebudayaan setempat. Di beberapa tempat di Nusantara termasuk Malaya, kamboja ditanam di pekuburan sebagai tumbuhan peneduh dan penanda tempat. Kamboja dapat diperbanyak dengan mudah, melalui stek batang. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman dan umumnya di daerah pekuburan, atau tumbuh secara liar. Tumbuh di daerah dataran rendah 1-700 m dpl.

D. Nilai medis
Tanaman kamboja (Plumeria acuminate) mengandung senyawa agoniadin, plumierid, asam plumerat, lipeol dan asam serotinat, plumierid merupakan suatu zat pahit beracun (Sastroamidjojo, 1967).
Kandungan kimia getah tanaman ini adalah damar dan asam plumeria C10H10O5 (oxymethyl dioxykaneelzuur) sedangkan kulitnya mengandung zat pahit beracun. Menurut Syamsulhidayat dan Hutapea (1991) akar dan daun Plumeria acuminate mengandung senyawa saponin, flavonoid dan polifenol. Selain itu daunnya juga mengandung alkaloid. Tumbuhan ini mengandung fulvoplumierin yang memperlihatkan daya mencegah pertumbuhan bakteri. Selain itu juga mengandung minyak atsiri antara lain geraniol, farsenol, sitronelol, fenetilalkohol dan linalool (Tampubolon, 1981). Kulit batang kamboja mengandung flavonoid, alkaloid, polifenol.

E. Nilai komersial
Plumeria acuminate banyak digunakan sebagai tumbuhan hias maka dari kegunaan tersebut dapat dimanfaatkan dan dengan nilai jual yang tinggi mencapai Rp.20.000,00 – Rp.30.000,00/pot. Namun di Indonesia Plumeria acuminate bisa dikatakan sudah tidak memiliki nilai jual atau nilai komersial lagi karena makin mudahnya masyarakat mendapatkan tumbuhan ini.

2.5 Jatropha gossyfifolia
A. Morfologi
Jatropha gossyfifolia atau jarak merah dengan family euphorbiaceae adalah salah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap (folium incompletus) karena hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Bentuk bangun daun (circumscriptio) yang bulat (orbicularis) dan daging daun (intervenium) jika dipegang tipis seperti selaput (membranaceus).
Jatropha gossyfifolia juga memiliki bentuk pertulangan daun (nervatio) yang menjari (palminervis), tepi daun (margo folii) yang bergerigi (serratus), ujung daun (apex folii) yang runcing (acutus) dan pangkal daun (basis folii) yang berlekuk (emarginatus). Permukaan daunnya bersifat licin suram (laevis opacus) (Gembong, 1985).

B. Klasifikasi
Adapun susunan klasifikasi dari Jatropha gossyfifiolia yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Malphigiales
Family : Euphorbiceae
Genus : Jatropha
Spesies : Jatropha gossyfifolia

C. Ekologi
Jatropha gossyfifolia meruapakan tumbuhan negara tropik dan negara subtropik seperti Florida. Jenis ini sudah ditanam di seluruh kawasan Malesia, teutama di daerah yang kering. Tumbuhan jarak merah merupakan salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Tumbuhan jarak dapat tumbuh pada keadaan tanah yang kurang subur, tetapi memiliki pengaliran air atau kadar air yang cukup dan mempunyai kadar tanah dengan pH antara 5,0 – 6,5 dengan keadaan suhu sekitar 31 ˚C dan dengan batas hidup pada ketinggian 500 m dpl.

D. Nilai medis
Daun tumbuhan jarak merah biasanya digunakan untuk mengobati luka pada tubuh. Biji dan cangkang jarak merah mengandung 20 – 40 % minyak nabati. Namun bagian inti biji cangkang dapat mengandung 45 – 60 % minyak kasar. Berdasarkan analisis terhadap komposisi asam lemak dari 11 provanas jarak merah, diketahui bahwa asam lemak paling dominan adalah oleat dan asam linoleat.

E. Nilai komersial
Pemanfaatan minyak dari tumbuhan jarak sebagai bahan bakar alternatif ideal untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak peghe atau penggunaan cadangan devisa. Minyaknya juga dapat digunakan sebagai pabrik lilin dan sebagai bahan bakar untuk masak, dimana sisa padat minyak tersebut digunakan sebagai pupuk.


BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat
Praktikum morfologi tumbuhan ini dilaksanakan pada:
- Hari/tanggal : Sabtu, 26 Maret 2011
- Waktu : Pukul 13.00 WITA - selesai
- Tempat : Laboratoium Biodeversity Biologi FMIPA UNTAD

B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan pada praktikum morfologi tumbuhan adalah sebagai berikut :
1. Buku gambar
2. Alat tulis menulis
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum morfologi tumbuhan adalah sebagai berikut :
1. Daun Piper bettle
2. Daun Euphorbia hirta
3. Daun Anacardium occidentale
4. Daun Plumeria acuminate
5. Daun Jatropha gossyfifolia

C. Prosedur kerja
1. Menulis nama spesies dan family tumbuhan tersebut
2. Menggambar dan memberi keterangan bagian-bagiannya
• Helaian daun (lamina)
• Tangkai daun (petiolus)
• Upih daun (vagina)
3. Menentukan :
• Circumscriptio
• Intervenium
• Margo
• Apex
• Basis
• Permukaan daun
• Nervatio



BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Pembahasan
1. Piper bettle
Piper bettle yang biasanya disebut sirih adalah salah satu tumbuhan yang berdaun tidak lengkap (folium incompletus) karena pada daun ini hanya memiliki tangkai daun (petioulus) dan helaian daun (lamina). Bagian yang terlebar pada daun terletak di bawah tengah-tengah helaian daun, pangkal daunnya tidak bertoreh dan memiliki bangun daun (circumscriptio) yang menyerupai bulat telur (ovatus). Daging daun (intervenium) bersifat tipis lunak (herbaceus).
Susunan tulang-tulang daun (nervatio) yaitu melengkung (cervinervis) dimana daun ini mempunyai beberapa tulang yang besar, satu di tengah yaitu paling besar sedangkan lainnya mengikuti jalannnya tepi daun. Jadi semula memencar kemudian kembali menuju ke satu arah yaitu ke ujung daun, sehingga selain tulang yang di tengah semua tulang-tulangnya kelihatan melengkung.
Memiliki tepi daun (margo folii) yang rata (integer). Ujung daun (apex folii) bersifat meruncing (acuminatus) yaitu di mana titik pertemuan kedua daunnya jauh lebih tinggi dari pada ujung daun yang runcing sehingga ujung daun terlihat sempit dan panjang. Memiliki pangkal daun (basis folii) yang berlekuk (emarginatus). Sedangkan pada permukaan daunnya bersifat licin mengkilat (laevis nitidus)
Piper bettle tumbuh di daerah hutan agak lembab dengan keadaan tanah yang lembab. Hidup pada daerah yang mempunyai curah hujan 2250 - 4750 mm/tahun. Tumbuhan ini dapat ditemukan hingga ketinggian 900 m dpl dan menyukai tempat yang teduh dan terlindung dari angin, serta pada daerah yang beririgasi baik dan kaya bahan organik dengan pH 7 – 7,5.

2. Euphorbia hirta
Euphorbia hirta atau patikan kebo merupakan tumbuhan yang berdaun tidak lengkap (folium incompletus) karena hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Bagian yang terlebar pada daun berada di tengah-tengah helaian daun. Bentuk bangun daun (circumscriptio) seperti jorong (ovalis) dengan perbandingan panjang : lebar = 1 ½ - 2 : 1.
Susunan tulang-tulang daun (nervatio) yaitu menyirip (penninervis) dimana daun ini mempunyai satu ibu tulang yang terdapat dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunan sirip-sirip pada ikan, oleh sebab itu dinamakan bertulang menyirip.
Memiliki tepi daun (margo folii) yang bergerigi ganda (biserratus) karena memiliki angulus yang cukup besar. Ujung daun (apex folii) bersifat runcing (acuminatus) yaitu di mana titik pertemuan kedua daunnya jauh lebih tinggi dari pada ujung daun yang runcing sehingga ujung daun terlihat sempit dan panjang. Memiliki pangkal daun (basis folii) yang runcing (acutus). Sedangkan bila diraba pada permukaan daunnya terasa berbulu kasar (hispidus).
Euphorbia hirta dapat tumbuh pada suhu sekitar 23 – 28 oC. Euphorbia hirta merupakan tumbuhan daerah tropis dengan curah hujan sekitar 1600 mm/tahun. Euphorbia hirta merupakan tumbuhan merambat yang tumbuh diantara rumput. Dapat ditemukan pada ketinggian 200 mm dpl. Toleran terhadap pH 3,2 – 4,6. Kelembapan di sekelilingnya tidak terlalu berpengaruh.

3. Anacardium occidentale
Anaardium occidentale atau jambu mede adalah tumbuhan yang berdaun tidak lengkap (folium incompletus) karena hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Bagian yang terlebar pada daun berada di tengah-tengah helaian daun. Bentuk bangun daun (circumscriptio) seperti jorong (ovalis) dengan perbandingan panjang : lebar = 1 ½ - 2 : 1.
Susunan tulang-tulang daun (nervatio) yaitu menyirip (penninervis) dimana daun ini mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun. Dari ibu tulang ini ke samping keluar tulang-tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunan sirip-sirip pada ikan, oleh sebab itu dinamakan bertulang menyirip.
Memiliki tepi daun (margo folii) yang rata (integer). Ujung daun (apex folii) yang tumpul (obtusus) karena tepi daun yang semula jauh dari tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hingga terbentuk sudut yang tumpul (lebih besar dari 90 oC). Memilik pangkal daun (basis folii) yang runcing (acutus). Serta bila diraba permukaan daunnya terasa berkerut (rugosus).
Tumbuhan jambu mede berasal dari timur laut Brazil, yang kemudian dibudidayakan di negara-negara tropis. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada suhu 20 – 35 oC dan tidak cocok ditanam pada daerah yang bersalju, karena tumbuhan ini menghendaki penyinaran matahari yang tinggi. Apabila tumbuhan jambu mede ini kekurangan penyinaran matahari maka produktivitasnya akan menurun karena radiasi yang rendah dapat memperlambat proses fotosintesis. Adapun jenis tanah yang sesuai dengan tumbuhan ini yaitu tanah yang berpasir, tanah lempung pasir dan tanah ringan berpasir dengan tingkat pH 6,3 - 7,3. Curah hujan 500 – 3500 mm/tahun. Dengan ketinggian 0 – 1200 m dpl dan dengan kelembapan 40 – 60 %.

4. Plumeria acuminate
Plumeria acuminate atau kamboja putih hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina) saja sehingga termasuk daun yang tidak lengkap (folium incompletus). Bagian yang terlebar pada daun terdapat di atas tengah-tengah helian daun. Mempunyai bentuk bangun daun (circumscriptio) yang sudip (spathulatus) dimana bentuknya seperti bangun bulat telur terbalik, tetapi bagian bawahnya memanjang.
Susunan tulang-tulang daun (nervatio) yaitu primer lateral. Memiliki tepi daun (margo folii) yang rata (integer). Ujung daun (apex folii) yang tumpul (obtusus) karena tepi daun yang semula jauh dari tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hingga terbentuk sudut yang tumpul (lebih besar dari 90 oC). Memiliki pangkal daun (basis folii) yang runcing (acutus). Serta bila diraba permukaan daunnya terasa berkerut (rugosus).
Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah. Walaupun berasal dari tempat yang jauh, kemboja sekarang merupakan pohon yang sangat populer di Pulau Bali karena ditanam di hampir setiap pura serta sudut kampung, dan memiliki fungsi penting dalam kebudayaan setempat. Di beberapa tempat di Nusantara termasuk Malaya, kamboja ditanam di pekuburan sebagai tumbuhan peneduh dan penanda tempat. Kamboja dapat diperbanyak dengan mudah, melalui stek batang. Tumbuhan asal Amerika ini biasanya ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan, taman dan umumnya di daerah pekuburan, atau tumbuh secara liar. Tumbuh di daerah dataran rendah 1-700 m dpl.

5. Jatropha gossyfifolia
Jatropha gossyfifolia atau jarak merah juga hanya memiliki tangkai (petiolus) dan helaian daun (lamina) sehingga termasuk daun yang tidak lengkap (folium incompletus). Bagian yang terlebar pada daun berada di tengah-tengah helaian daun. Memiliki bentuk bangun daun (circumscriptio) yang menyerupai bangun perisai (peltatus) dimana tangkai daun tidak tertanam pada pangkal daun, melainkan pada bagian tengah helaian daun.
Memiliki susunan tulang-tulang daun (nervatio) yang menjari (palminervis) dimana dari ujung tangkai daun keluar beberapa tulang yang memencar, memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan. Jumlah tulang ini lazimnya ganjil, yang di tengah yang paling besar dan paling panjang, sedangkan ke samping semakin pendek.
Memiliki tepi daun (margo folii) yang berombak (repandus) karena sinus dan angulus sama-sama tumpul. Ujung daun (apex folii) bersifat meruncing (acuminatus) yaitu di mana titik pertemuan kedua daunnya jauh lebih tinggi dari pada ujung daun yang runcing sehingga ujung daun terlihat sempit dan panjang. Tidak memiliki pangkal daun (basis folii) karena tangkai daun tertanam pada bagian tengah helaian daun. Serta bila diraba permukaan daunnya terasa tipis seperti selaput (membranaceus).
Jatropha gossyfifolia meruapakan tumbuhan negara tropik dan negara subtropik seperti Florida. Jenis ini sudah ditanam di seluruh kawasan Malesia, teutama di daerah yang kering. Tumbuhan jarak merah merupakan salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Tumbuhan jarak dapat tumbuh pada keadaan tanah yang kurang subur, tetapi memiliki pengaliran air atau kadar air yang cukup dan mempunyai kadar tanah dengan pH antara 5,0 – 6,5 dengan keadaan suhu sekitar 31 ˚C dan dengan batas hidup pada ketinggian 500 m dpl.


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan, maka kesimpulan yang kami peroleh adalah sebagai berikut:
1. Yang dikatakan sebagai daun lengkap adalah jika daun tersebut memiliki helaian daun (lamina), tangkai daun (petiolus), dan upih daun (vagina), tetapi jika salah satu dari bagian tersebut tidak terdapat pada daun maka daun tersebut dikatakan daun tidak lengkap (folium incompletus).
2. Peper bettle, Plumeria acuminate, Anacardium occidentale, Euphorbia hirta dan Jatropha gossyfifolia merupakan tumbuhan yang hanya memiliki tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina) sehingga seperti yang telah dijelaskan pada poin di atas, tumbuhan-tumbuhan tersebut termasuk tumbuhan yang berdaun tidak lengkap (folium incompletus).

B. Saran

Praktikan berharap agar dalam praktikum selanjutnya dapat berlangsung dengan lebih tenang, sehingga praktikan dapat memanfaatkan waktu yang telah disediakan dengan seefisien mungkin. Serta praktikan berharap agar tidak hanya para praktikan yang mematuhi tata tertib pada saat di dalam laboratorium, namun para asisten juga sehingga praktikum dapat berjalan lebih tertib.

1 komentar:

Fatin amz mengatakan...

nk tanya boungainvillea ni daun lengkap or xlengkap n perfect or xperfect?

Poskan Komentar